![]() |
| Advertisement |
melupakan matahari yang bertahun aku puja. sesungguhnya jika matahari itu masih berwarna mungkin aku akan senang melihatnya dipagi hari. tapi tidak untuk kali ini. atau mungkin beberapa hari belakangan ini.
ini seperti bintang jatuhnya si endang soekamti. hanya bedanya mimpi buruk yang dibawakan oleh bintang jatuh ini menjadi nyata. hal yang aku takutkan adalah pernyataan yang membuat selat diantara dua batalion.
mereka merebahkan aku dalam pemikiran tak berujung yang menentukan apa yang harus aku lakukan di kemudian hari. jika memang episode ini harus menjadi batas akhir dari pengejaran. ya sudah.
masalahnya adalah. seberapa kali pun aku mencoba menutup hidung. bau keagungan dari kemuliaan yang menempati lorong terdasar yang selama ini aku pijak menjadi tidak nyata dan menyebalkan. ah sial. sampai kapan aku akan berbicara seperti ini. kalimat yang bahkan tidak ada yang mengerti apa maknanya. biarlah. setidaknya emosi berkurang di tempat ini. kekecewaan dan kebahagian yang menunggu seakan menari-nari menunggu untuk aku musnahkan.
brengsek kalian. kau. waktu dan kenyataan.





0 komentar: