Senin, 04 Oktober 2010

ketika kelak cahaya anda memudar maka tawaku akan ikut membias

ad300
Advertisement
seperti ujung belati yang tidak pernah di asah.
karat dan mungkin akan segera patah walau di terpa semilir angin
serupa ingatan yang mungkin takan terbaca ketika mata enggan terbuka
seperti itu pula lah kau akan tertelan waktu dan detik pelarian

sedari pagi sebelum fajar malas melompat
sejak saat itulah aku dan sepenggal puisiku telusuri aluran rel kereta
sebelum mesin mesin itu membakar udara
sejak saat itu lah aku mulai bercita cita.. kau akan aku taklukan!

dibuai mimpi yang beberapa nampak sengaja kau beri
di angkat kalimat para mentri yang mengangkat hati
terbukti satu ulasan kalimat jelas kian terpatri
tumpukan berani di setiap rongga hati kian terisi

segera meledak berhamburan karena aku tersadar
kesempatan akan hilang setelah satu batalion anak muda
akan berpencar setelah asuransi tidak lagi berarti
maka dimana aku kini? di ujung tebing tertawa atau di tertawakan

berbekal kepercayaan dua puluh delapan suara
aku hamburkan sekotak ungkapan nan tertekan
ini resiko yang paling tinggi yang pernah aku lakukan
namun berbuah lamunan nan hinaan lebih dari 2 tahunan

bangkit.. dan mulai bangkit ketika temukan apa itu arti "teman"
satu pudar seribu bersinar dan akan tetap berpijar
warna awan tak lagi sepekat arang saat peleburan
kini hitam membias evolusi perasaan saat terkapar

suatu ketika kelak kau temui apa itu akhir dari penghidupan
saat itu pula juga lah kau akan bersinar seterang-terangnya
dan saat itu pula lah aku akan meredup segelap-gelapnya
serupa temaram senja yang akan selalu datang

ketika aku berhenti berusaha untuk menaklukan dunia.
Share This
Previous Post
Next Post

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra

0 komentar: