Rabu, 01 September 2010

kamera, jari tengah, baygon dan rasa cinta

ad300
Advertisement
hmm.. sebuah ironi yang sebetulnya sudah lama saya tau. sebuah realita yang sebenarnya saya sadar betul akan itu.
entah berapa banyak peluru yang sengaja saya tembakan kedalam isi kepala.
entah berapa reguk baygon yang sengaja saya minum.
kenapa? saya cinta peluru dan baygon itu.
walaupun kenyataan baygon dan peluru itu menyakitkan.
lalu apakah baygon dan peluru itu tau kalau mereka itu membuat sakit. tidak.
mereka tidak akan pernah tau. kenapa? karena mereka di ciptakan untuk menyakiti dan melumpuhkan sasaran.

serupa budak yang mencintai tuannya sedemikan rupa. tak perduli dia di bayar atau tidak. tak perduli ada timbal balik atau tidak. dua tikam kawan berlari membawa parang. dua tertawa satu tertatih. tertatih tapi tersenyum.
iya. tersenyum melihat sang kawan senang bersama kawan lainnya, walaupun dia tau bahwa satu barisan di depan tidak pernah tau jika dia tertatih. dan siapakah dia? itulah saya.

lalu apa hubunganya dengan kamera jari tengah dan rasa cinta?
karena semua berawal dari kamera. kamera mengakibatkan jari tengah terangkat dan jari tengah adalah ungkapan rasa cinta. cinta untuk buktikan bahwa satu judul lagu yang saya ciptakan adalah nyata.
bukan jargon musisi adalah pembual. bukan kiasan indah di atas kertas usang yang dulu saya banggakan. kenapa? karena kertas usang itu sudah lama hilang. terakhir terlihat di sudut meja berikut beberapa baris puisi.
iya. puisi. tapi percuma menulis lagu dan puisi. karena baygon tidak suka puisi dan peluru juga tidak bisa bernyanyi. lalu untuk apa puisi itu? untuk membuktikan pada dunia. bahwa saya kuat berteman dengan baygon dan peluru. bahwa saya akan tetap menganggumi baygon dan peluru sampai kapanpun. walaupun mungkin kelak baygon itu akan kadaluarsa. walaupun kelak peluru itu akan hilang berkarat. saya tetap cinta peluru dan baygon.

karena semua yang saya lakukan. semata terlahir untuk menjamu peluru dan baygon. walaupun baygon dan peluru takan pernah tau. apa isi kepala saya. karena peluru hanya melintas secara cepat. melubangi rongga kepala. lalu terbuka lah isi kepala. dan sekilas dia tau tentang isi kepala saya. tapi sekilas juga dia dia melesat secepat magnum yang di tembakan kakek tua. tak apa. saya cinta peluru.
Share This
Previous Post
Next Post

Pellentesque vitae lectus in mauris sollicitudin ornare sit amet eget ligula. Donec pharetra, arcu eu consectetur semper, est nulla sodales risus, vel efficitur orci justo quis tellus. Phasellus sit amet est pharetra

0 komentar: